Kekerasan Seksual Pada Anak di Perkotaan

33394403941-stop_kekerasan_anak_(radarjakarta.com)Istilah kekerasan seksual pada anak sebenarnya telah didefinisikan sejak tahun 1999 oleh American Academy of Pediatrics. Kekerasan  seksual adalah perlakuan seksual pada anak yang belum cukup  oleh orang dewasa dan melanggar hukum serta norma sosial. Perlakuan seksual tersebut mulai dari kontak fisik yang tidak wajar sampai kepada hubungan seksual atau perkosaan.

Tindakan kekerasaan seksual biasanya terjadi saat orang dewasa atau orang yang berusia lebih tua, menggunakan kekuatan pada seorang anak yang berusia dibawah 18 tahun untuk melakukan aktivitas seksual, seperti membohongi, mengancam, atau memaksa anak untuk ambil bagian dalam aktivitas seksual.

Kekerasan seksual pada anak secara legal, berupa kontak seksual antara orang dewasa dan anak yang belum cukup umur atau antar anak tetapi  dengan perbedaan umur yang bermakna dan terdapatnya pemaksaan atau eksploitasi. Penelitian menunjukan, kekerasan seksual antar anak apabila dijumpai perbedaan usia sekitar 4-5 tahun antara pelaku dan korban. Bentuk kekerasan seksual lain adalah inses, yaitu kekerasan seksual pada anak dalam keluarga inti, misalnya  antara orang tua – anak, atau antar saudara.

Kekerasan seksual pada anak dapat  dijumpai  dalam berbagai bentuk, diantaranya: belaian pada daerah genital, anus atau dada. Hubungan seksual genital atau anal, sek oral, atau penetrasi dengan benda- benda. Tetapi dapat pula berbentuk perlakuan seksuan tanpa sentuhan, seperti : memaksa anak untuk telanjang demi membuat gambar atau tayangan video porno anak, atau memaksa anak menyaksikan gambar atau tayangan porno

Sebuah penelitian retrospektif menunjukan 10 -25 % anak perempuan pernah memiliki riwayat kekerasan  seksual dalam berbagai bentuk sebelum mencapai usia 18 tahun. Sedangkan pada anak laki – laki menunjukan sekitar 18 % pernah mengalami kekrasan seksual dimasa kanak. Kebanyakan korban mendapatkan kekerasan seksual pertama kali pada usia 8-11 tahun

Suatu laporan di amerika  tahun 2004 menunjukan bahwa ayah atau figur ayah dilaporkan sebagai pelaku utama dan dewasa muda pada 20% kasus kekerasan seksual. Anak lelaki cenderung kurang terbuka untuk  mengakui pelaku, karena takut tidak dipercaya, takut di balas oleh atau adanya ancaman dari pelaku, stigma sosial atau enggan mengakui dirinya lemah. Apabila pelakunya lelaki, remaja lelaki cenderung tidak mengakui adanya kekerasan seksual karena takut dianggap homoseksual dan malu atas akibatnya. Suatu penelitian menunjukan bahwa remaja lelaki dengan riwayat kekerasan seksuaal lebih cenderung menjadi homoseksual dari pada anak tanpa riwayat kekerasan seksual.

Penyebab terjadinya kekerasan seksual dikatakan multifaktorial, diantaranya karakteristik keluarga :  isolasi sosial, struktur patriarki yang kaku, hubungan perkawinan yang buruk, kekerasan dalam rumah tangga, dibesarkan oleh orang tua tiri, riwayat keterlibatan dalam tindak kriminal, dan adanya gangguan kepribadian pada orang tua. Ayah yang melakukan seksual banyak dilaporkan tidak mempunyai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *